Hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, adalah momen sukacita dan kebersamaan keluarga. Namun, di tengah kemeriahan itu, seringkali ada kelompok yang terlupakan: anak yatim terlantar. Mereka adalah anak-anak yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua, dan seringkali hidup dalam keterbatasan, bahkan tanpa ada yang mengasuh secara layak. Keadaan mereka menjadi perhatian utama dalam ajaran Islam, khususnya melalui teladan Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yatim sejak kecil. Pengalaman pahit kehilangan orang tua sejak dini membuatnya memiliki empati yang mendalam terhadap anak yatim. Beliau sangat menekankan pentingnya menyantuni dan memuliakan anak yatim. Dalam banyak hadis, Rasulullah menjanjikan ganjaran besar bagi siapa saja yang berbuat baik kepada anak yatim, bahkan hingga jaminan surga.
Di hari raya, perhatian Rasulullah terhadap anak yatim sangat nyata. Beliau tidak ingin ada satu pun anak yatim yang merasa sedih atau terabaikan di hari yang seharusnya penuh kegembiraan. Salah satu kisah masyhur menceritakan bagaimana Rasulullah SAW menghibur seorang anak yatim yang menangis di hari raya, memberinya pakaian baru, dan mengasuhnya, menunjukkan sentuhan kasih yang luar biasa.
Kisah tersebut mengajarkan kita bahwa kegembiraan hari raya tidak hanya untuk diri sendiri atau keluarga inti. Kegembiraan itu harus disebarkan, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan sentuhan kasih dan perhatian. Anak yatim adalah prioritas, karena mereka kehilangan figur pelindung dan pemberi nafkah, membuat mereka rentan terhadap kesedihan dan kesulitan hidup.
Menyantuni anak yatim bukan sekadar memberikan uang atau barang. Lebih dari itu, mereka membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan emosional. Di hari raya, ini berarti mengajak mereka merasakan atmosfer kebersamaan, memberikan pakaian terbaik, makanan lezat, dan hadiah yang membuat mereka merasa dihargai dan dicintai, seperti anak-anak lain.
Pemerintah dan berbagai lembaga sosial saat ini semakin banyak berinisiatif untuk memberikan bantuan kepada anak yatim terlantar. Namun, peran individu dan komunitas tetap sangat vital. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral untuk peduli terhadap mereka yang kurang beruntung, mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam memuliakan anak yatim.