Sebagai salah satu pondok pesantren terkemuka, Tebuireng memiliki peran sentral dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi Islam (Islam Wasathiyah). Sebagai bagian integral dari Nahdlatul Ulama (NU), Tebuireng menjunjung tinggi prinsip toleransi (tasamuh), keseimbangan, dan keberagaman. Hal ini menjadikannya pusat pengembangan Islam Wasathiyah di Indonesia, sebuah model bagi keberagamaan yang damai dan inklusif di tengah masyarakat majemuk.
Konsep Islam Wasathiyah yang diusung Tebuireng adalah tentang mengambil jalan tengah, menghindari ekstremisme dalam beragama, baik radikalisme maupun liberalisme yang kebablasan. Ini berarti berpegang teguh pada syariat Islam namun tetap terbuka terhadap perubahan dan perkembangan zaman, serta menghargai perbedaan.
Pengajaran di Tebuireng secara konsisten menekankan pentingnya sikap moderat. Santri dididik untuk memahami ajaran agama secara komprehensif, tidak hanya dari satu sudut pandang. Mereka diajari untuk menghargai perbedaan mazhab dan tradisi keilmuan, menumbuhkan semangat toleransi yang kuat. Ini adalah kunci dari Islam Wasathiyah.
Selain itu, Tebuireng juga mendorong dialog antarumat beragama dan berbagai kelompok masyarakat. Interaksi ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama dan memperkuat ikatan sosial. Dengan demikian, Tebuireng tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga agen perdamaian dan kerukunan.
Peran Tebuireng dalam mengembangkan Islam Wasathiyah sangat relevan di tengah tantangan global saat ini. Berbagai isu seperti radikalisme dan polarisasi masyarakat menuntut adanya institusi yang secara konsisten menyuarakan dan mempraktikkan Islam yang moderat, yang bisa menjadi solusi, bukan masalah.
Kurikulum pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu fikih, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Santri dididik untuk menjadi warga negara yang baik, yang menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945, sejalan dengan prinsip Islam Wasathiyah yang inklusif dan nasionalis.
Tebuireng juga menjadi rujukan bagi penelitian dan diskusi tentang isu-isu keagamaan kontemporer. Para ulama dan akademisi di dalamnya aktif berkontribusi dalam memberikan pandangan yang moderat dan solutif terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa.
Singkatnya, Islam Wasathiyah adalah identitas utama Tebuireng, yang tercermin dalam setiap aspek pendidikan dan kehidupannya. Dengan menjunjung tinggi toleransi, keseimbangan, dan keberagaman, Tebuireng terus berperan sebagai mercusuar Islam moderat di Indonesia, berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang harmonis dan damai.