Literasi Perpustakaan: Cara Mengklasifikasi Ribuan Kitab Secara Manual

Perpustakaan dalam ekosistem pesantren bukan sekadar ruangan berisi tumpukan kertas, melainkan gudang peradaban yang menyimpan pemikiran para ulama dari berbagai abad. Di tengah arus digitalisasi, banyak pesantren besar tetap mempertahankan tradisi literasi perpustakaan dengan pendekatan yang sangat teliti. Mengelola ribuan koleksi kitab bukanlah tugas yang ringan, terutama ketika prosesnya melibatkan cara mengklasifikasi secara manual. Aktivitas ini menuntut kedalaman pemahaman terhadap isi kitab serta ketelatenan dalam menata setiap jilid agar mudah diakses oleh para santri dan mahasantri.

Proses klasifikasi manual dimulai dengan identifikasi disiplin ilmu yang terkandung dalam sebuah kitab. Tidak seperti buku umum yang menggunakan sistem Dewey (DDC) secara kaku, perpustakaan pesantren sering kali menggunakan kategori keilmuan Islam klasik sebagai fondasi utama. Santri yang bertugas di bagian perpustakaan harus mampu membedakan antara kitab fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadis, hingga tasawuf. Setiap kategori ini memiliki sub-kategori yang sangat spesifik. Misalnya, dalam kategori kitab fiqih, pengelola harus mengelompokkan lagi berdasarkan mazhab atau tema tertentu seperti muamalah atau ibadah, agar pencarian literatur menjadi lebih efisien.

Teknik manual ini sangat mengandalkan ketajaman ingatan dan kejelian mata. Penomoran punggung kitab dilakukan dengan tulisan tangan yang rapi atau label manual yang ditempel dengan presisi. Setiap kitab diberi identitas yang mencakup nama pengarang (mualif), tahun cetakan, dan penerbit. Mengelola ribuan kitab dengan cara ini melatih pengelola untuk memiliki kedekatan emosional dengan koleksinya. Mereka tidak hanya melihat kitab sebagai benda mati, tetapi sebagai guru yang harus diletakkan pada posisi yang terhormat. Penempatan kitab tafsir, misalnya, secara etika selalu diletakkan di rak paling atas sebagai bentuk penghormatan terhadap kemuliaan Al-Qur’an.

Selain penataan, aspek perawatan dalam sistem perpustakaan manual juga menjadi tantangan tersendiri. Debu dan kelembapan adalah musuh utama kertas-kertas tua. Para santri belajar cara membersihkan kitab tanpa merusak jilidannya, menggunakan bahan-bahan alami untuk mencegah rayap, serta memastikan sirkulasi udara di dalam ruangan tetap terjaga. Proses ini adalah bagian dari literasi fisik yang jarang ditemukan di perpustakaan modern yang serba otomatis. Ada seni tersendiri dalam menyentuh lembaran kertas kuning (kitab kuning) yang memerlukan kelembutan agar tidak robek.