Di tengah perkembangan pesat pesantren modern yang mengadopsi kurikulum formal dan teknologi canggih, tradisi pengajaran klasik tetap menjadi inti, dan salah satu metode yang paling berharga adalah sistem Sorogan. Sistem ini, di mana santri secara individu membaca dan menyetor pelajaran kitab kepada kiai atau ustadz, merupakan kunci untuk Melampaui Kurikulum standar dengan memberikan perhatian personal dan evaluasi pemahaman yang mendalam. Dalam konteks pendidikan modern yang cenderung massal, metode Sorogan menawarkan pendekatan one-on-one yang memastikan tidak ada santri yang tertinggal dalam penguasaan ilmu agama. Melampaui Kurikulum melalui Sorogan ini menghasilkan santri yang tidak hanya hafal, tetapi benar-benar menguasai ilmu agama secara komprehensif.
Metode Sorogan beroperasi berdasarkan prinsip individualisasi. Santri akan datang menghadap guru pada waktu yang telah ditentukan (biasanya setelah Shalat Subuh atau Maghrib) dan membaca bagian tertentu dari Kitab Kuning. Guru akan mendengarkan dengan saksama, mengoreksi kesalahan bacaan, terjemahan, dan pemahaman santri secara langsung. Ini sangat berbeda dengan metode Bandongan di mana guru mengajar banyak santri sekaligus. Karena interaksi yang intensif ini, Melampaui Kurikulum menjadi mungkin karena guru dapat menyesuaikan kecepatan dan kedalaman materi sesuai dengan kemampuan masing-masing santri.
Pentingnya Sorogan dalam pendidikan modern terletak pada pembentukan karakter dan disiplin intelektual.
- Melatih Tanggung Jawab: Santri harus mempersiapkan materi sendiri sebelum nyorog (menyetor). Tanggung jawab pribadi ini menumbuhkan kemandirian belajar.
- Membangun Koneksi Emosional: Interaksi langsung dengan kiai atau ustadz membangun hubungan batin (rabithah) yang kuat, yang sangat penting dalam proses transmisi ilmu (sanad) dan adab.
- Evaluasi Otentik: Guru dapat menilai tidak hanya pemahaman kognitif, tetapi juga ketepatan pengucapan bahasa Arab (tahsin) dan kedalaman pemikiran santri.
Meskipun sistem pendidikan formal memiliki jadwal yang padat (misalnya KBM formal berlangsung dari pukul 07.00 hingga 14.00 WIB), pesantren modern tetap menyisipkan sesi Sorogan (seringkali dilakukan di waktu luang santri, sekitar pukul 16.00 atau malam hari). Ini menunjukkan bahwa mereka memandang Sorogan bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen inti yang diperlukan untuk Melampaui Kurikulum dan mencetak ulama masa depan yang memiliki pemahaman agama yang otentik dan kuat. Latihan ini secara tidak langsung juga melatih mental santri untuk siap diuji kapan saja oleh otoritas keilmuan tertinggi mereka.