Hajar Aswad, batu hitam mulia yang terletak di sudut Ka’bah, adalah salah satu objek paling disucikan dalam Islam. Ribuan jamaah haji dan umrah setiap tahunnya berdesakan untuk mencium atau menyentuhnya, berharap mendapat keberkahan. Namun, sejarah mencatat peristiwa kelam yaitu Pencurian Hajar Aswad yang dilakukan oleh kelompok Qaramitah pada abad ke-10 Masehi.
Kisah Pencurian Hajar Aswad ini merupakan salah satu episode paling dramatis dan menyedihkan dalam sejarah Islam. Kelompok Qaramitah, sebuah sekte Syiah ekstremis yang memiliki ideologi menyimpang, melihat Ka’bah dan ritual haji sebagai bid’ah. Mereka ingin menghancurkan simbol-simbol Islam ortodoks.
Pada tahun 930 Masehi, di bawah kepemimpinan Abu Tahir al-Jannabi, pasukan Qaramitah menyerbu Mekah saat musim haji. Mereka melakukan pembantaian massal terhadap para jamaah, menjarah kota, dan kemudian dengan keji melakukan Pencurian Hajar Aswad dari Ka’bah.
Setelah berhasil mencuri Hajar Aswad, mereka membawanya ke markas mereka di al-Ahsa, wilayah Bahrain saat ini. Mereka bahkan berusaha untuk mengalihkan ritual haji ke tempat lain, berdalih bahwa Hajar Aswad yang mereka miliki adalah yang asli dan lebih mulia.
Selama 23 tahun, Hajar Aswad berada dalam penguasaan Qaramitah. Selama periode ini, ibadah haji mengalami guncangan besar. Ka’bah tanpa Hajar Aswad menjadi simbol kekacauan dan penderitaan umat Islam. Banyak upaya dilakukan untuk merebut kembali batu mulia tersebut.
Usaha merebut kembali Hajar Aswad melibatkan diplomasi, negosiasi, bahkan ancaman. Para khalifah Abbasiyah dan penguasa Mesir berusaha keras mengembalikannya. Akhirnya, dengan campur tangan penguasa dinasti Fatimiyah di Mesir, Hajar Aswad berhasil direbut kembali.
Pada tahun 951 Masehi, Hajar Aswad dikembalikan ke Mekah. Namun, batu mulia tersebut tidak lagi utuh seperti semula. Akibat perlakuan kasar selama dalam penguasaan Qaramitah, Hajar Aswad pecah menjadi beberapa bagian, yang kemudian disatukan kembali dengan bingkai perak.
Peristiwa Pencurian Hajar Aswad adalah pengingat betapa berharganya simbol-simbol keagamaan bagi umat Muslim. Kisah ini juga menunjukkan keteguhan iman dan upaya gigih umat Islam dalam mempertahankan kesucian tempat-tempat ibadah mereka dari segala bentuk penyimpangan.
Kisah kegagalan Qaramitah dalam menggoyahkan fondasi Islam melalui pencurian Hajar Aswad menjadi pelajaran berharga. Meskipun sempat hilang, Hajar Aswad kembali ke tempat asalnya, menunjukkan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya kembali.