Pemulihan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga pascabencana dapat didorong melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah secara produktif. Setelah memberikan dukungan sarana air melalui penyaluran tandon penampungan air hujan di pedesaan, program pemberdayaan pertanian mulai digulirkan. Santri membagikan ribuan benih sayuran siap tanam kepada warga desa di Kalimantan guna mendukung kemandirian pangan harian keluarga kurang mampu.
Pembagian bibit tanaman hortikultura ini mencakup komoditas sayuran cepat panen seperti kangkung, bayam, sawi, cabai, dan terong. Jenis sayuran ini dipilih karena memiliki masa tanam yang singkat dan relatif mudah dirawat di pekarangan rumah menggunakan polibag. Penyaluran benih sayuran ini memberikan solusi cepat bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian atau ladang pertanian akibat bencana banjir. Warga dapat memanen hasil sayuran segar dalam waktu beberapa minggu saja.
Selain menyerahkan paket benih dan media tanam, santri memberikan pendampingan teknis mengenai cara penyemaian dan pembuatan pupuk organik sederhana. Warga diajarkan cara memanfaatkan sampah dapur menjadi kompos penyubur tanah yang murah dan ramah lingkungan. Pendampingan ini memastikan tanaman hortikultura dapat tumbuh subur tanpa tergantung pada pupuk kimia mahal. Keterampilan bercocok tanam sederhana ini disambut antusias oleh para ibu rumah tangga.
Hasil panen dari tanaman pekarangan ini tidak hanya dapat dikonsumsi sendiri untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga harian, tetapi juga dapat dijual. Kelebihan hasil panen sayuran dapat dijual ke tetangga atau pasar lokal untuk menambah penghasilan harian rumah tangga. Skema pemanfaatan pekarangan ini terbukti efektif menjaga ketahanan pangan keluarga di tingkat desa secara berkesinambungan. Ketergantungan pada pasokan pasokan luar kawasan dapat dikurangi.
Tokoh masyarakat desa mengapresiasi tinggi program pemberdayaan pertanian ramah lingkungan yang diprakarsai oleh Pondok Pesantren Insan Madani. Pembagian benih dan pelatihan tanam ini menjadi stimulant positif bagi warga untuk bangkit mandiri mengelola potensi lahan sekitar. Semangat produktif warga kembali menyala seiring hijau mewarnai pekarangan rumah mereka. Kerja sama sosial ini mempererat hubungan pesantren dan masyarakat.
Penyaluran benih hortikultura cepat panen di Kalimantan ini membuktikan bahwa pembinaan santri mencakup aspek ketahanan pangan yang aplikatif di lapangan. Pemanfaatan lahan pekarangan menjadi langkah nyata dalam menciptakan kedaulatan pangan dari tingkat keluarga. Program pemberdayaan pertanian ini akan terus dikembangkan ke desa-desa binaan lainnya demi terwujudnya masyarakat yang mandiri dan sejahtera.