Di tahun 2025 ini, di antara berbagai ilmu yang diajarkan di pondok pesantren, seni membaca Al-Qur’an dengan benar dan indah, atau yang dikenal dengan Qira’ah dan Tilawah, memegang peranan sentral. Kegiatan ini bukan sekadar hafalan, melainkan proses mengasah kemampuan dalam melafalkan Kalam Ilahi sesuai kaidah tajwid yang ketat, sekaligus menyentuh hati pendengarnya. Artikel ini akan mengupas bagaimana pesantren menjadi pusat mengasah kemampuan para santri dalam seni membaca Al-Qur’an, yang tidak hanya membentuk hafiz yang mahir tetapi juga qori/qori’ah yang memukau.
Proses mengasah kemampuan Qira’ah (cara membaca Al-Qur’an yang beragam berdasarkan riwayat) dan Tilawah (seni membaca Al-Qur’an dengan indah) di pesantren dimulai dari dasar. Santri diajarkan kaidah-kaidah tajwid (ilmu tentang pengucapan huruf, panjang pendek, dengung, dll.) secara rinci. Mereka belajar makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan sifatul huruf (sifat-sifat huruf) agar setiap pelafalan sesuai dengan aslinya. Pembelajaran ini seringkali dilakukan secara individual (sorogan), di mana santri membaca di hadapan guru dan langsung mendapatkan koreksi. Ini memastikan bahwa setiap santri mendapatkan perhatian penuh dan kesalahannya dapat diperbaiki secara personal.
Setelah menguasai dasar-dasar tajwid, santri mulai mengasah kemampuan dalam variasi Qira’ah, seperti Qira’ah Sab’ah (tujuh jenis bacaan utama yang diakui). Mereka tidak hanya menghafal teks, tetapi juga memahami perbedaan dalam cara melafalkan dan mengaplikasikan hukum tajwid sesuai riwayat yang berbeda. Proses ini membutuhkan ketekunan, kepekaan pendengaran, dan memori yang kuat. Banyak pesantren memiliki program khusus untuk mencetak qori dan qori’ah yang akan menjadi duta dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat regional maupun nasional. Pada MTQ Nasional ke-30 yang diselenggarakan pada Maret 2025 di Palembang, sebanyak 70% finalis kategori Tilawah Remaja adalah alumni atau santri aktif dari pondok pesantren.
Selain aspek teknis, Qira’ah dan Tilawah juga merupakan bentuk tadabbur (perenungan makna) Al-Qur’an. Membaca dengan tartil dan indah seringkali membantu santri lebih meresapi makna ayat-ayat yang dibaca, sehingga bacaan mereka tidak hanya enak didengar tetapi juga menyentuh jiwa. Pengajaran ini tidak hanya meningkatkan kualitas bacaan, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual santri dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Seorang juri MTQ nasional yang juga pengajar di pesantren, Ustaz Abdul Ghafur, dalam wawancara di sebuah stasiun televisi pada April 2025, menekankan bahwa “keindahan bacaan Al-Qur’an adalah cerminan dari hati yang khusyuk dan pemahaman yang mendalam.”
Pada akhirnya, seni mengasah kemampuan Qira’ah dan Tilawah di pesantren adalah sebuah dedikasi yang membentuk santri menjadi penjaga Kalam Ilahi dalam arti yang sesungguhnya. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga menjadi duta yang melantunkan Al-Qur’an dengan keindahan dan kebenaran, memastikan warisan suci ini terus terjaga dan menginspirasi umat hingga generasi mendatang.