Selain metode privat yang intensif, pesantren juga memiliki sistem klasikal yang unik dan sangat ikonik. Tradisi Bandongan merupakan salah satu pilar pengajaran di mana seorang guru membaca, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab di depan jamaah santri yang banyak. Ini adalah cara belajar kolektif yang menuntut konsentrasi tinggi dari para pendengar untuk menyimak setiap detail penjelasan. Di lingkungan pesantren, Bandongan bukan sekadar rutinitas pagi atau sore, melainkan momen di mana samudera ilmu dialirkan secara luas kepada seluruh lapisan santri dari berbagai tingkatan.
Keunikan dari tradisi Bandongan terletak pada metode ngabsah atau memberi makna. Santri menuliskan makna setiap kata di bawah teks kitab mereka dengan bahasa daerah menggunakan aksara Pegon. Sebagai cara belajar kolektif, sistem ini menciptakan harmoni luar biasa; hanya terdengar suara guru dan gesekan pena santri di atas kertas. Di setiap sudut pesantren, pemandangan ratusan santri yang duduk bersila dengan kitab di pangkuan adalah bukti betapa kuatnya budaya literasi tradisional ini bertahan di tengah arus modernitas yang serba digital.
Meskipun disebut sebagai tradisi Bandongan, metode ini tetap memiliki standar ketelitian yang ketat. Seorang Kiai akan membaca teks dengan kecepatan tertentu yang harus diikuti oleh santri tanpa tertinggal satu kata pun. Ini adalah cara belajar kolektif yang melatih pendengaran dan koordinasi tangan. Di pesantren, jika ada santri yang tertinggal dalam memberi makna, ia biasanya akan bertanya kepada temannya setelah pengajian selesai, hal ini secara tidak langsung juga menumbuhkan semangat gotong royong dan solidaritas antar sesama penuntut ilmu.
Secara filosofis, tradisi Bandongan mengajarkan tentang kerendahan hati dalam menyerap ilmu. Tidak ada instruksi untuk berdebat di tengah pengajian, melainkan menyimak sepenuhnya apa yang disampaikan oleh guru. Sebagai cara belajar kolektif, metode ini sangat efektif untuk mentransfer pengetahuan dalam jumlah besar secara efisien. Kiai sering kali menyisipkan humor atau kisah-kisah hikmah di sela-sela pembacaan kitab, membuat atmosfer pesantren terasa hidup dan hangat, sehingga ilmu yang berat sekalipun terasa ringan dan mudah untuk dicerna oleh para santri.
Singkatnya, metode ini merupakan perwujudan dari keberkahan ilmu yang turun melalui perantara guru. Tradisi Bandongan tetap menjadi pilihan utama bagi pesantren-pesantren besar untuk mengkhatamkan kitab-kitab tebal secara rutin. Sebagai cara belajar kolektif, ia berhasil menjaga persatuan pemikiran dan amaliah para santri. Dengan terus dijalankannya sistem ini di pesantren, tradisi intelektual Islam klasik akan terus terjaga kemurniannya dan dapat terus diwariskan kepada generasi-generasi santri berikutnya secara utuh.